Tuesday, November 8, 2011

Mendiang Benyamin S. Dianugerahi Bintang Jasa Budaya Tertinggi dari Negara

Penyanyi, penulis lagu, aktor, komedian, dan sutradara legendaris kebanggaan Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, mendiang Benyamin Sueb, telah dianugerahi gelar Bintang Budaya Parama Dharma, sebuah tanda kehormatan tertinggi yang diberikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono kepada orang-orang yang dianggap berakhlak dan berbudi pekerti baik serta berjasa besar di bidang budaya.

Seperti dilaporkan oleh Jakarta Globe, pemberian gelar budaya tersebut diumumkan pada Selasa (8/11) siang lalu di Istana Negara bersamaan dengan penganugerahan gelar pahlawan nasional terhadap tujuh tokoh penting, yaitu mantan ketua Nahdlatul Ulama Idham Chalid, orang pertama yang menjabat sebagai Majelis Ulama Indonesia Abdul Malik Karim, gubernur Bank Indonesia pertama Syafrudin Prawiranegara, tokoh penting Taman Siswa Ki Sarmidi Mangunsarkoro, gubernur Bali pertama I Gusti Ketut Puja, salah satu tokoh kunci kemerdekaan Indonesia Sri Susuhan Pakubuwono X, dan politikus Katolik Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono.

Ketujuh nama tersebut sudah meninggal dunia dan diwakili oleh anggota keluarga mereka masing-masing dalam menerima penghargaan dari Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Untuk Bintang Budaya Parama Dharma sendiri, selain mendiang Benyamin Sueb terdapat sembilan nama lain yang menerima penghargaan serupa, yang masing-masing bernama Hasbullah Parindurie, Harijadi Soemadidjaja, Gondo Durasim, Huriah Adam, Idrus Tintin, Kwee Tek Hoay, Sigit Sukasman, Gi Tik Swan atau KRT Hardjonagoro, dan Gedong Bagus Oka atau Ni Wayan Gedong.

Dilahirkan di daerah Kemayoran, Jakarta pada 5 Maret 1939, Benyamin Sueb telah menelurkan tujuh puluh lima album musik dan membintangi lima puluh tiga film. Ia memulai karier dalam dunia musik dengan bergabung bersama grup Naga Mustika, yang berdomisili di Cengkareng.

Pengamat musik senior Denny Sakrie sempat menjelaskan bahwa Benyamin Sueb adalah sosok cerdas yang mampu menjadikan musik sebagai medium yang tak sekadar hiburan semata, tapi juga sebagai medium refleksi, kritisi, maupun kontemplasi.

Benyamin Sueb pun memainkan musik yang beragam, tidak hanya pop dan gambang kromong, tetapi juga rock, blues, soul, funk, keroncong, seriosa, hingga dangdut. Selain Naga Mustika, Benyamin Sueb juga pernah diiring oleh grup Pantja Nada, Elektrika, Beib Blues, dan Al-Haj.

Pada 5 Maret 1995, Benyamin Sueb mendirikan sebuah radio FM bernama Bens Radio, yang menggali potensi budaya Betawi, agar pendengar dapat merasakan budaya sendiri, berkesenian dengan tradisi sendiri, serta bertutur dan berdialog dengan bahasanya sendiri.

Ajal menjemputnya pada 5 September 1995 saat ia berusia 56 tahun akibat serangan jantung. Benyamin Sueb, yang telah menunaikan empat belas kali ibadah haji, dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Ini dilakukan sesuai wasiat yang dituliskannya, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang ia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya.

Sebuah jalan di daerah kelahirannya, Kemayoran, Jakarta Pusat, dinamai Jalan Benyamin Sueb untuk menghormatinya. Source

No comments:

Post a Comment